Sabtu, 27 Februari 2010

The Greatest Predator


            Eksistensinya mulai menjauh, memudar seiring berjalannya waktu. Setapak demi setapak ia lalui tanpa tenaga, hanya bermodalkan asa yang tersisa ia meninggalkan tempat itu. Isak tangis masih terdengar dari sudut tergelap sebuah kota, menandakan sesuatu yang sangat besar telah terjadi. Suaranya begitu memilukan, layaknya ongongan serigala. Perempuan itu sepenuhnya sadar apa yang telah ia lakukan, tapi apa daya, hasrat itu mengalir bagaikan denyut nadi pada seorang manusia. Seorang lagi telah terbunuh, entah berapa banyak nyawa yang telah ia buang begitu saja, sia-sia. Hanya untuk memenuhi kebutuhan yang amat akut dalam hidupnya, darah…
Carrol memang pedator yang paling berbahaya didunia, tentu saja dengan mahluk sebangsanya. Lebih buas daripada serigala, juga lebih garang daripada seekor singa. Aura yang ia bawa hanyalah kegelapan, yang mampu membuat setiap manusia rapuh tertunduk lemas, mengetahui bahwa hidupnya akan segera berakhir detik itu juga. ‘Vampir’ mungkin adalah sebutan yang tepat untuk mahluk seperti Carrol, keabadian, dan tubuh yang setiap detik haus akan darah adalah takdirnya. Entah sejak kapan ia mulai menyesali takdir itu, mungkin sejak ia dilahirkan dan menjadi putri sepasang bangsawan yang juga menyembunyikan identitas mereka dengan kedok yang amat jauh berbeda dari apa mereka sesungguhnya. Ayah dan Ibu Carrol memang seorang bangsawan tersohor didaerah mereka, tetapi itu semua semata-mata hanya untuk menutupi bahwa mereka sebenarnya tidak lebih dari sesosok predator paling berbahaya.
Carrol meninggalkan lorong gelap itu secepatnya. Sebulir air menetes dari kelopak matanya yang kini berubah menjadi biru, entah mengapa setiap kali dia menuntaskan tugas rutinnya, hal semacam ini selalu saja terjadi. Carrol tak bisa begitu saja melupakan hal yang telah ia perbuat, malah seringkali ia dihantui oleh mimpi buruk yang berisi tangisan, dan teriakan setiap orang yang telah menjadi korbannya, tapi apa hal lain yang mungkin bisa ia lakukan selain bertahan hidup dari darah orang-orang yang tak bersalah itu? jawabannya, tidak ada.
“Tampaknya ada yang merasa kekenyangan disini.” suara Sivver mengagetkan Carrol yang baru saja tiba di istananya.
Carrol hanya diam, dan menatap kearah sumber suara itu tajam.
“Sudahlah Carrol, kau tak perlu merasa berdosa, kita memag ditakdirkan untuk hal nista seperti itu.”
“Takdir memang tidak pernah berpihak” Ucap Carrol, sedikit menahan tangis.
“Ingatlah, kita layaknya manusia yang membunuh tanaman dan hewan untuk memenuhi kebutuhan mereka.”
“Tapi manusia membunuh hewan dan tanaman yang tidak sedikitpun mempunyai perasaan, tidak seperti kita!” Jawab Carrol
“Memang hanya disitu letak perbedaannya, tetapi sampai kapan kau mau menyesali takdir kita? Sampai kau mati karena kekurangan asupan darah?” Desak Sivver
Carrol terdiam
“Baiklah, menurutku kita tak perlu membicarakan hal ini lagi, aku kesini hanya untuk mengirimkan pesan dari ibumu, kita semua harus menghadiri sebuah jamuan malam nanti, tentu saja kau berangkat denganku, karena para orangtua kita sudah ada disana sejak tadi sore, aku akan kembali pukul delapan, dan kuharap pada saat aku kembai kau sudah siap dengan gaunmu.”
Carrol mengangguk tanpa antusias
“Tampaknya kau sudah mengerti, dan itu tandanya aku harus pergi, sampai jumpa.” Pamit Sivver mengakhiri percakapan singkat mereka, berjalan menjauh dari hadapan Carrol.
Tak lama setelah Sivver pergi, Carrol beranjak dari tempatnya untuk bersiap menghadiri jamuan yang dikabarkan oleh Sivver. “Waktunya berakting menjadi seorang manusia’, pikirnya hampa.
-to be continue-

2 komentar: